5 Hal Menarik dari Seri Kedua MotoGP Argentina 2017


Seri kedua MotoGP Argentina memang sudah berakhir akhir pekan lalu. Namun telah meninggalkan serba-serbi yang menarik bagi para pecinta MotoGP di seluruh dunia. Bukan hanya tragedi terjatuhnya Marc Marquez yang menjadi hal menarik, bahkan ada rekor yang tercipta dari seri kedua ini. Apa saja ya hal-hal menarik dari MotoGP Autodromo Termas de Rio Hondo kemarin. Simak ulasannya di bawah.

 Tumbangnya Marc Marquez


Pembalap Repsol Honda, Marc Marquez mungkin saja bisa meladeni perlawanan Pembalap Movistar Yamaha, Maverick Vinales di seri perdana MotoGP 2017. Persaingin ini terjadi karena Sirkuit Losail Qatar merupakan tempat favoritnya dalam balapan. Selain itu, waktu berlangsungnya MotoGP Qatar, mesin baru Honda, big bang, belum digunakan dalam balapan.

Akan tetapi, ia hanya mampu menyaingi pembalap Yamaha di awal-awal musim saja. Di seri kedua ini, ia mengalami insiden terjatuh dan keluar lintasan di lap keempat. Ia tidak berpikir dan bahkan ia tidak yakin kenapa dia terjatuh. Namun ia menerima insiden itu karena murni merupakan kesalahan dirinya.

Pembalap Repsol Honda lainnya, Dani Pedrosa, juga harus merasakan hal yang sama seperti Marquez. Ia mengikuti jejak Marquez di lap ke-10 sehingga dirinya harus gagal finis. Pedrosa terjatuh di Turn 2 sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo sepeti Marquez.

Kedua pembalap Repsol Honda harus rela menerima DNF (Did Not Finish). Musim ini merupakan musim pertama dimana keduanya kompak mendapatkan DNF semenjak MotoGP Phillip Island di musim 2104 silam.

Penampilan Sempurna Maverick Vinales


Pembalap Movistar Yamaha, Maverick Vinales, meraih dua kemenangan beruntun setelah pada MotoGP Argentina ia finis di posisi pertama. Ia mampu tampil konsisten dari seri pertama GP Qatar. Di seri kedua ini, ia juga tampil apik sepanjang lintasan di Autodromo Termas de Rio Hondo, Argentina. Rekan setimnya, Valentino Rossi juga menyusul di belakangnya di posisi kedua.

Dari keenam debutnya dengan M1 dalam babak kualifikasi memang poin yan ia raih relatif sangat lemah. Namun ia lebih cepat dibandingkan rekan seniornya, Valentino Rossi, yang telah terbukti berpengalaman dalam berbagai kondisi lintasan.

Musim ini, Vinales memecahkan rekor pertamanya di Autodromo Termas de Rio Hondo dengan kemenangan yang manis. Bersam timnya musim lalu (Suzuki), ia sangat kesulitan menaklukan sirkuit ini. Dengan penuh kesabaran, akhirnya Vinales bisa finis pertama di musim ini bersama Yamaha.

Awal-Awal Balapan Buruk Rossi Terulang Kembali


Valentino Rossi memang menampilkan performa yang kurang baik di sesi latihan bebas dan kualifikasi. Bahkan ia harus memulai balapan dari posisi ketujuh. Namun, ia mampu tampil impresif di seri balapan dengan meraih podium kedua. Hal ini selalu menjadi pertanyaan bagi semua kalangan. Mengapa hal itu selalu terjadi pada Rossi ?

Rossi sudah mengakui bahwa musim 2017 merupakan musim tersulitnya di MotoGP. Ia bahkan menyalahkan ban Michellin yang menyebabkan dirinya kesulitan mengendari kuda besi di lintasan. Namun akhirnya tim bisa mengatasi masalah ini.

Dari dua seri balapan Qatar dan Argentina, Rossi selalu mengusulkan untuk mengatasi kecepatannya supaya lebih cepat lagi. Perbaikan itu ia serahkan kepada timnya agar bisa lebih bak di seri berikutnya.

Sirkuit Bersajarah Bagi KTM


Duo Pembalap KTM, Pol Espargaro dan Bradley Smith, memang hanya finis di posisi ke-14 dan ke-15. Akan tetapi raihan kedua pembalap tersebut merupakan hari bersejarah bagi KTM.

Espargaro mengawali start balapan di posisi ke-18, sedangkan Smith di posisi ke-19. Akan tetapi, kedua pembalap tersebut mampu tampil apik dengan melahap 25 lap minimnya kendala. Espargaro bahkan mengalami pertarungan sengit dengan Tito Rabbat dan Hector Barbera.

 “Apa yang paling penting bagi kru dan seluruh tim adalah ini pertama kalinya dalam sejarah, KTM telah mencetak poin di MotoGP,” ujar Espargaro.

“Tapi disisi lain, saya pikir kami memiliki kesempatan untuk melakukan sedikit lebih. Kami kehilangan beberapa kecepatan di trek lurus untuk menyalip dua pembalap, Barbera dan Tito,” lanjutnya.

“Kami masih memiliki beberapa titik kelemahan. Tapi di sisi lain, saya mengucapkan selamat kepada tim atas pekerjaan baik yang mereka lakukan. Kami membuat langkah, tentu kami masih jauh, tapi kami mulai melihat cahaya.” Pungkas Espargaro.

Performa Gemilang Alvaro Bautista


Alvaro Bautista mengakui bahwa Sembilan lap akhir GP Argentina lebih hebat ketimbang dengan rival-rivalnya seperti Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso, dan Marc Marquez. Namun ia menegaskan, jarak yang terlalu jauh membuat dirinya sulit untuk mengejar ketertingalannya.

“Jarak seharusnya bisa diperkecil, tapi karena start dari posisi sepuluh maka itu menjadi sulit. Di putaran terakhir, saya lebih kuat dari rider di depan, tapi jarak Antara kami terlalu besar. Jika saya punya posisi start yang lebih bagus, saya yakin bisa meraih podium di GP Argentina,” ungkap pembalap Tim Aspar Ducati tersebut.

Dari balapan yang mengitari 25 lap tersebut, Bautista memang hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk bisa tampil di podium. Pembalap berpaspor Spanyol tersebut finis di posisi keempat terpaut 2.8 detik dari Cal Crutchlaw yang finis di posisi ketiga.

Tampil start dari posisi kesepuluh dan finis di posisi keempat merupan hasil yang impresif bagi Bautista. Hal ini merupakan kesulitannya untuk menyalip rider lain yang ada di depannya.

Itulah 5 hal menarik dari seri kedua MotoGP Argentina 2017. Bila ada tambahan bagi kalian, bisa cantumkan di kolom komentar.
Previous
Next Post »